Minggu, 08 Januari 2012

Harga-harga

Sonora FM 100.9:
Selamat pagi, sonora memberitakan, cabe lurus rp3500/kg, cabe kriting rp11500/kg. Penelpon silahkan hubungi sonora!
Penelpon:
Lho, kok kriting mahal sih?
Sonora FM 100.9:
Ya! Kriting karena abis di blow! Cabe merah rp19500/kg, cabe ijo rp 1400/kg.
Penelpon:
Kok yang merah mahal banget?
Sonora FM 100.9:
Soalnya cat merah abis!


Kamu mengaku saja

Seorang guru Sejarah memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya,
“Anak-anak, siapa yang menulis Pancasila dan UUD 1945?”
Murid-murid semua diam seribu bahasa. Karena hingga menjelang usai jam pelajaran belum satu murid pun menjawab, sang guru marah dan akhirnya menghukum seluruh muridnya berjemur di lapangan upacara hingga sore hari. Salah seorang murid tersebut, sebut saja Anto, tiba di rumah dengan menangis tersedu-sedu. Ayahnya yang keheranan bertanya,
“To, kenapa kamu? Berkelahi?”
Anto menjawab, “Bukan Pak, tapi kami dihukum jemur oleh pak Guru.” Ayahnya bertanya lagi, “Kenapa sampai dihukum?”
Anto menjawab, “Kami tidak menjawab siapa yang menulis Pancasila dan UUD 1945, pak” Tiba-tiba muka sang Ayah merah padam dan menampar anaknya itu sembari menghardik,
“Kenapa tidak mengaku saja kamu yang menulisnya!!!


Menyontek

Suatu hari orangtua amin dipanggil kepala sekolah
kepsek: “anak bapak telah menyontek amir.”
ortu : “anak saya tidak pernah menyontek kalau menyontek buktinya apa?”
kepsek: “ini soal no 1 siapa pahlawan dari aceh?amir menjawab cut nyak dien amin juga menjawab sama.”
ortu : “itu kan suatu kebetulan.”
kepsek: “tapi soal no 2 siapa yg membunuh ken arok? amir menjawab gue nggak tau dan amin juga menjawab apalagi gue, nggak tau.”
ortu : “???????”


Puisi Untuk Ibu


Ibu
Aku lahir tanpa apa-apa,
Engkaulah yang mengajariku segalanya,
Membesarkanku dengan segala upaya,
Berharap aku kan jadi orang yang berguna..

Ketika aku menangis dalam takut,
Engkaulah yang menenangkanku..
Dan ketika aku jatuh sakit,
Engkaulah yang selalu berada di sampingku..

Engkau menegurku ketika aku salah,
Engkau mengingatkanku ketika aku lupa,
Engkau menghiburku ketika aku sedih,
Engkaulah yang menyembuhkanku ketika aku terluka..

Kini aku telah dewasa,
Berusaha mengejar dan meraih cita-cita,
Berharap kan menjadi orang yang berguna,
Demi mewujudkan harapan dan impian keluarga..

Terima kasih ibu,
Engkaulah segalanya bagiku,
Tanpamu kini aku bukanlah apa-apa,
Kasihmu padaku tak kan terbalas sepanjang masa...



Hanya orang biasa

Orang yang tegar bukan berarti orang yang kuat menjalani kehidupannya, mereka hanya sebagian orang yang berusaha mencoba membuat dirinya berpikir bahwa masih banyak orang yang memiliki beban yang lebih berat dari mereka.

Orang yang sabar, bukan berarti orang yang tak kan pernah marah, mereka hanya sebagian orang yang masih bisa tetap diam saat melihat masalah tersebut datang dan menahan untuk tidak mengambil tindakan apapun.

Orang yang baik, bukan berarti mereka tidak pernah jahat sepanjang hidupnya, mereka hanya sebagian orang yang berusaha menyenangkan hati orang-orang di sekitarnya dan memberikan apa yang masih bisa mereka berikan selama mereka sanggup melakukannya.

Orang yang tulus, bukan berarti orang yang benar-benar tidak mengharapkan apapun dari kamu, mereka hanya sebagian orang yang berharap kamu akan mengingat sedikit kebaikan mereka tanpa mengharapkan balasan dari kamu.

Orang yang jujur, bukan berarti mereka tidak pernah melakukan kebohongan seumur hidupnya, mereka hanya sebagian orang yang yang mengatakan kebenaran lebih banyak daripada kebohongan yang mereka buat.

Kita harus melihat segala sesuatu dari dua sisi yang berbeda. Segala sesuatu memiliki hal yang positif dan negatif. Semuanya tergantung dari cara kamu menilai.

Ini semua membuktikan bahwa kita memang hanya “manusia biasa” yang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya, tak dapat berdiri sendiri. walaupun sebenarnya kamu sanggup sekalipun.

Sandal Jepit dan Peci

Suatu malam, saat semua penghuni rumah sudah terlelap, Sandal Jepit yang berada di luar rumah menggigil kedinginan. Tak pernah sekalipun ia diajak masuk oleh si empunya. Dengan tubuh kotor penuh debu, kadang lumpur, ia selalu dibiarkan tergeletak di depan. Rupanya, keluhan itu sempat di dengar oleh Peci yang tergantung di paku di dinding ruang tamu. Melihat rekannya yang berada di luar, Peci hanya tersenyum penuh kemenangan dan pura-pura tertidur tak memedulikan Sandal Jepit yang mulai menangis.

Dalam batinnya, sandal berkata, sungguh enak menjadi peci. Ia selalu ditempatkan di atas, dipakai atau tidak, tak pernah ia berada di bawah. Lain halnya dengan dirinya, dipakai terinjak-injak, tak dipakai tetap tersingkir di pojokan, di tanah atau di lantai dingin. Setiap hendak digunakan, tuan pemilik selalu membersihkan peci, tak satu pun debu dibiarkan hinggap, dan sepulang diajak pergi, kembail dibersihkan dan diletakkan di tempat yang lebih terhormat: jika tidak di atas lemari, di dalam lemari, di atas buffet, paling rendah tergantung di dinding.

Berbeda dengan sendal jepit. Dipakai tak pernah dibersihkan, sepulangnya semakin tak dipedulikan sekotor apa pun, mulai dari debu, sampai kotoran dengan bau yang tak sedap. Kalaupun diajak pergi, sandal tak pernah ke tempat yang bersih, ke pasar, ke kebun, lapangan, atau ke toilet. Jelas saja, tuan pemilik akan lebih memilih sepatu atau sandal kulit untuk ke Mall, ke pesta, atau ke tempat-tempat yang memang bukan tempatnya sandal jepit berada disana. Tapi, sandal juga dipakai jika tuan pemilik hendak ke masjid. Entah ini penghormatan atau sebaliknya buat sandal jepit karena jika nanti di masjid ia harus berpindah kaki dengan orang lain alias hilang, toh tuan pemilik hanya berpikir, “Untung cuma sandal jepit.”

Sedangkan peci, selalu dipakai kondangan, bahkan para pemimpin negeri, pejabat-pejabat penting negara ini wajib menggunakan peci saat pelantikan dan acara-acara resmi, acara kehormatan kenegaraan.

Peci hampir tak pernah dipinjamkan kepada tuan yang lain, karena biasanya masing-masing sudah memiliki. Tapi sandal, sekalipun ada, beberapa, tak pernah diberikan kehormatan untuk mengabdi pada satu tuannya saja. Ia bisa dipakai tuan istri, tuan anak, atau juga pembantu. Tidak jarang, ia dipinjamkan juga ke tetangga, atau teman tuan anak. Kalaupun usang dan berubah warna, peci biasanya tak pernah dibuang. Disimpan dalam kardus di gudang dengan rapi, atau paling mungkin diberikan kepada anak-anak yatim atau siapa saja yang membutuhkannya. Intinya, masih bernilai paskaguna. Sandal jepit? Jelek sedikit diganti, apalagi kalau sudah putus talinya, tidak ada tempat yang paling pas kecuali tong sampah. Terkadang, ia juga harus merasakan kepedihan jika tubuhnya harus dipotong-potong untuk pengganti rem blong, atau dibuat roda mobil-mobilan mainan anak-anak.

Tapi sandal tetap menyadari status dan perannya sebagai sandal yang akan selalu terinjak-injak, kotor, dan tak pernah di atas. Sandal tak pernah iri dengan peran peci. Terlebih saat tuan pemilik berhadapan dengan Tuhannya, dan ditanya, “Mana dari dua barang milikmu yang paling sering kau gunakan, paling bermanfaat, sandal jepit atau peci, yang akan kau bawa bersamamu ke surga?” Dengan mantap tuan pemilik menyebut sandal jepit jauh lebih memberikan manfaat baginya.

 ***
Tak penting apa status, peran dan fungsi kita di dunia ini, karena Allah, Rasul, dan manusia beriman tak melihat pakaian yang kita kenakan, jabatan yang tersemat, dan kehormatan yang disandang, tapi seberapa bermanfaatnya kita bagi orang lain dengan status dan peran tersebut. Jika demikian, bukan hal penting untuk mempertanyakan status dan jabatan apa yang akan kita sandang saat ini dan nanti. Tetapi yang terpenting untuk ditanyakan, seberapa bisa kita berbuat baik dan bermanfaat bagi banyak orang.

Rahasia Tuhan


Saat aku minta pada Tuhan setangkai bunga segar,
Dia beri aku kaktus berduri.

Aku minta pada Tuhan hewan mungil dan cantik,
Dia beri aku ulat berbulu.
Aku sempat sedih,
kecewa,
dan protes betapa tidak adilnya Tuhan.

Namun kemudian,,
Kaktus itu berbunga indah sekali,
Ulatpun tumbuh dan berubah menjadi kupu-kupu yang amat cantik,

Itulah rahasia Tuhan,
Indah pada waktunya,

Tuhan tidak memberi apa yang kita  harapkan,
Tapi Tuhan memberi apa yang kita butuhkan.